Hari Ibu Setiap Hari

Sahabat,  hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember, sebentar lagi akan datang. Biasanya, untuk merayakannya, keluarga akan sibuk membahagiakan Ibu dengan istimewa. Apa bedanya dengan hari-hari yang lain? Apa, bagaimana, kapan, dan dari mana asalnya? Yuk, kita pelajari catatan berikut ini.

Hari Ibu biasanya dirayakan dengan menjadikan Ibu sebagai Ratu, membebaskannya dari tugas utama sehari-hari memasak, mengasuh anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Bahkan, di hari istimewa itu, banyak keluarga menyiapkan pesta kejutan. Ayah membeli bunga dan kue tart kesukaan Ibu, sedangkan anak-anak membantu membuat kartu ucapan serta berbagai hal untuk memeriahkannya. Wah, alangkah senang perasaan Ibu, Mama, Emak, Umi, pada hari itu. Tapi, apakah hanya hari itu Ibu wajib diperlakukan istimewa?

Asal-Usul

Hari Ibu diperingati dengan berbagai alasan. Dulu, di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu atau Mother’s Day dirayakan pada bulan Maret. Hal itu berhubungan dengan kepercayaan mereka memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah atau mitologi Yunani Kuno. Di negara seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Belanda, Malaysia, dan Hongkong, Hari Ibu diperingati pada hari Minggu kedua bulan Mei. Karena hari itu pada 1870 seorang ibu aktivis sosial, Julia Ward Howe, menyanangkan pentingnya perempuan bersatu menghentikan Perang Saudara di Amerika yang belum berserikat.

Berbeda dengan di Indonesia, Hari Ibu lahir dari sebuah Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut diilhami oleh perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said, dan lain-lain. Tetapi, 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu baru pada 1938, saat Kongres III. Pada awalnya, Hari Ibu digunakan sebagai ”alat perjuangan” dalam upaya perbaikan kualitas kaum ibu sebagai tiang negara dan bangsa.

Ibu dalam Islam

Islam, tanpa mengenal hari tertentu, mewajibkan setiap anak selalu mengistimewakan seorang Ibu. Mungkin kita tidak pernah menyadari, begitu banyak yang telah dilakukan oleh Ibu. Ibu mengandung kita selama 9 bulan, jihad berjuang melawan rasa sakit ketika melahirkan, mengesampingkan waktu istirahatnya untuk menyusui, juga merawat ketika kita sehat apalagi saat sakit, dan banyak lagi hal lainnya yang mustahil dapat kita hitung dan kita balas seluruh pengorbanannya. Ibu selalu berjuang untuk anak dan keluarganya. Alangkah mulianya seorang Ibu. Bahkan Rasulullãh pernah bersabda, ”seandainya kita diberi kemampuan membayar setiap tetes ASI, tidak akan ada seorang pun yang dapat melunasi jasa Ibu seumur hidup kita”. Untuk itu, Islam begitu mengistimewakan seorang Ibu, seperti yang banyak kita temui di dalam al-Quran, hadis, dan kisah-kisah teladan.

  • Allãh berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’,” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24). Amin.
  • Syurga ada di bawah telapak kaki ibu (Hadis).
  • Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?” Beliau bersabda, “Berbuat baiklah kepada Ibumu.” Lelaki itu bertanya dua kali lagi, beliau menjawab dua kali, ”Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi untuk yang keempat kalinya, ”Dan sesudah beliau?” Nabi menjawab, “Kepada Ayahmu.”
  • Dari sebuah kisah sufi, “Adalah hak Ibumu agar engkau mengingatnya bahwa beliau telah mengandungmu dalam rahimnya selama beberapa bulan. Memeliharamu dengan sari hidupnya. Mengerahkan semua yang ada padanya untuk memelihara dan melindungimu. Dia tidak memedulikan rasa laparnya, sedangkan engkau diberinya makan sepuas-puasnya. Dia mengalami rasa haus sementara dahagamu dipuaskan. Dia mungkin tak berpakaian layak, tapi engkau diberinya baju yang baik-baik. Dia mungkin berdiri di panas terik matahari, sementara engkau berteduh dalam bayangannya. Dia meninggalkan tidurnya yang enak demi tidurmu yang pulas. Dia melindungimu dari panas dan dingin. Dia menanggung semua kesusahan itu demi engkau! Maka engkau layak untuk mengetahui, bahwa engkau tak akan mampu bersyukur kepada Ibumu secara pantas, kecuali Allãh menolongmu dan memberikan keridaan untuk membalas akal-budinya.”
  • Dari kisah seorang alim-ulama. Seseorang berkata kepada orang yang Ibunya meninggal, “Tidak pantas engkau yang berkedudukan alim bersikap resah dan mengucurkan air mata, hanya karena kematian seorang perempuan tua.” Ulama besar itu mengangkat kepalanya dan menjawab, “Sepertinya engkau belum menyadari kedudukan mulia seorang Ibu. Saya berhutang budi atas kedudukan saya kepada pendidikan yang diberikan Ibu kepada saya, serta kerja kerasnya. Ibulah yang meletakkan dasar kemajuan saya, mengantarkan saya kepada kedudukan akhlak sebagai ulama seperti sekarang ini.

Wahai Sahabat, ingatlah selalu setiap bangun tidur di pagi hari, Ibu harus diperlakukan istimewa, Meski hari ini, bukan Hari Ibu. Salam hangat untuk Ibumu!

-Nia- (Berbagai Sumber)

Iklan

Tinggalkan pesan untuk Pendekar S'mut

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s